Si gendhuk yang masih SD itu sibuk membongkar buku-buku yang ia punya, juga majalah setumpuk. Tidak kurang dari itu, ia pinjam pondas (telepon cerdas) milik ibunya. Ia kemudian juga minta saya menggogle lewat laptop karena hp ibunya terlalu kecil hingga gambar yang didapat tidak jelas.

Rupanya ia ada tugas dari sekolah. PR mengerjakan soal pada buku LKS. Ada gambar rangkaian organ pencernaan manusia yang harus diberi nama pada bagian-bagi”an yang ditandai.

“Ya baca bacaannya dulu to, Ndhuk,” saya menyaran. Struktur isi bab buku itu biasanya berupa bacaan disusul dengan soal-soal.

“Tidak ada, Pak!” jawabnya. Guru katanya juga tidak mengajarkan tentang hal itu di kelas.

Bukan kali ini saja kasus itu terjadi. Minggu ini saja setidaknya sudah tiga kali ia menemui masalah yang sama.

Entah bagaimana logika yang dianut oleh penulis buku pelajaran itu. Hemat saya, sebelum ditanyakan pada soal, mestinya diberitahukan terlebih dahulu atau diajarkan pada bagian “bacaan”. Entah kenapa kami menemui banyak masalah serupa pada buku-buku pelajaran, terutama yang dicetak pada kertas buram itu.

Beruntung anak saya karena bapak-ibunya makan sekolahan sehingga akses terhadap informasi juga lumayan. Ia punya majalah, buku-buku, dan Internet. Bagaimana dengan anak-anak lain yang tak seberuntung dia?

***
Siang itu ia pulang dengan bersungut-sungut. Rupanya jawaban yang kemarin kami berikan atas PR yang ia kerjakan disalahkan gurunya.

“Katanya Candi Pawon itu peninggalan Kerajaan Majapahit, Pak!”

Lho?!