Nonton acara televisi tentang jalan-jalan, atau wisata, membuat saya membayangkan bahwa hidup di tempat wisata adalah enak. Coba kita tinggal di dekat lokasi itu, ODTW itu, kita tidak perlu pergi jauh tetapi dapat makan di warung dan resto yang di maknyus dan topmarkotp di televisi itu, dapat berkunjung ke objek itu, atau belanja di distro, di pasar yang itu. Kita dapat melakukannya setiap hari jika mau.

Akan tetapi sebagai seorang yang kadang tinggal di tengah-tengah pusaran turisme, di tengah kota Yogyakarta, saya merasa tidak seenak bayangan tersebut. Jika kami harus makan keluar–karena tidak sempat makan di rumah misalnya, harus berpikir: ke warung yang mana. Warung yang biasa disebut di televisi? Rasanya bagus untuk sekali-sekali saja makan di sana. Tentu tidak setiap hari kita dapat makan sate klathak, kupat tahu pak itu, mie goreng mbah ini, bakso super pedas, atau makanan lain yang sebangsanya. Kadang warung atau resto itu beraroma fancy, saya sebut demikian saja–yaitu yang bukan untuk keperluan sehari-hari, atau turistik: mahal. Yang lebih parah adalah jika merupakan kombinasi dari keduanya, fancy dan mahal.

Beruntungnya adalah masih ada sangat banyak warung, kios, toko, yang tidak beraroma wisata. Jadi, kami tetap tahu tempat misalnya untuk membeli kaos keperluan sehari-hari, bukan sebagai olih-olih turistik.\1

***

Satu lagi balada tinggal di kota wisata\2 : macet.

Musim liburan seperti ini, menempuh jalan Malioboro yang hanya satu kilometer itu bisa setengah jam. Jalan alternatif bagi saya nyaris tidak ada, karena Malioboro adalah jalan paling dekat dari kantor ke rumah. Di musim liburan kami biasa menghindari kawasan Malioboro. Selain itu, kemacetan biasanya juga terjadi di Jalan Solo hingga Kalasan, dan Jalan Magelang terutama di sekitar Jombor dan Tempel.

Berkait dengan kondisi lalu-lintas tersebut, kami berkesimpulan untuk tinggal di rumah jika musim libur. Berbagai kebutuhan sehari-hari dicukupi jauh hari. Jadi, menghadapi musim liburan malah siaga seperti menghadapi bencana.

***

Tetapi, tetap saja kami sambut para wisatawan. Selamat datang, selamat menikmati Yogya. [z]

ke atas

Catatan Kaki
  1. Sebenarnyalah kios turistik hanya sedikit dan kami dengan mudah mengenalinya. ^
  2. haiyah, malah ada kompleks perumahan di dekat Jakarta saya yang menamakan diri kota wisata ^