P idato dalam acara-acara tradisional semacam perkawinan, jika didengar-dengar mirip mantera. Para pemidato itu mengucapkan kata yang seringkali tidak dimengerti oleh para pendengar, bahkan mungkin olehnya sendiri. Terdapat kecenderungan anggapan bahwa semakin sulit dicerna kata-katanya maka semakin canggihlah ia berbicara, semakin tinggilah kadar ‘sastera’-nya.

Pidato yang intinya adalah ‘kami datang dengan membawa calon mempelai laki-laki’ misalnya, yang maksudnya sudah diketahui oleh semua orang di tempat tersebut, dibuat sedemikian rupa sehingga melingkar-lingkar dan berkepanjangan. Namun, ya itulah. Harus diucapkan karena menjadi bagian dari upacara. Kata-kata yang dikeluarkan pun bukan menggunakan kosa biasa karena ini adalah upacara. Sakral.

***

Pidato yang serupa mantera saya dengar juga di masjid desa. Dalam khotbah jumat biasanya Mbah Kaum membaca naskah dari buku ‘khotbah setahun’ dalam bahasa jawa, dengan cepat tanpa nada. Mungkin yang penting adalah sudah mengucapkan khotbah sebagai salah satu rukun dalam shalat jumat.

Boleh jadi, pidato di masa mendatang benar-benar mantera, jika para pemidato itu mengikuti pendapat Sutardji Calzoum Bachri beberapa puluh tahun yang lalu, tentang asal mula kata adalah mantera.

***

Namun, tentu hal ini bukan tanpa kecuali. Pidato paling lugu (=lugas) yang pernah saya dengar terjadi kurang dari seratusan meter dari tembok keraton Yogyakarta. Ketika menerima rombongan calon pengantin yang menyerahkan calon pengantin, pemidato ini hanya berbicara pendek: “Ya, saya terima”. Sama artinya, dan semua yang duduk hadir pun tahu maksudnya. [z]

ke atas

417 total views, 2 views today