Saat ini lagi ramai pemberitaan tentang shooting sinetron di sebuah rumah sakit, yang dikeluhkan oleh bapak seorang pasien. Anaknya meninggal di ICU, sementara konon pada saat yang sama bagian dari kompleks ICU (atau ICCU?) digunakan sebagai tempat shooting.\1

*

Aku Cinta Indonesia

Sampul kaset ACI.
Sumber: Wikipedia.

Zaman dulu ketika hanya TVRI yang bersiaran di televisi, tahun delapan puluhan, ada satu sinetron atau film seri yang T.O.P. B.G.T. Judulnya adalah A.C.I., singkatan dari “Aku Cinta Indonesia.”

A-C-I
Aku Cinta Indonesia
A bisa Amir
C bisa Cici
I Bisa Ito

Tapi A-C-I
Aku Cinta…
Indonesia…

Mungkin karena satu-satunya yang terpampang di televisi, film seri tersebut sangat populer. Kisah film seri ini adalah tentang persahabatan beberapa anak pelajar di sebuah sekolah rekaan, SMP Kota Kita. Cerita berkisar seputar tanggung jawab, setia kawan, persahabatan, sportivitas, dan sebangsanya. Dengan naskah ditulis oleh Arswendo Atmowiloto, ceritanya bener-bener seperti membaca majalah remaja waktu itu, yang damai.

Tentu ada konflik, dan itu adalah bagian wajar, atau malah keharusan, dari plot suatu karya fiksi. Tokoh antagonis pada film ini adalah Wati yang judes. Akan tetapi meskipun kadang para tokoh bertengkar, mereka tidak sampai melotot-lotot apa lagi tampar-tamparan.\2 Berkelahi memang kadang-kadang ada seperti yang terjadi di realitas keseharian para murid sekolah.

Adanya kata ‘cinta’ dalam judul serial ini tidak lantas membuatnya terjebak dalam cerita termehek-mehek. Cerita ACI yang berlevel SMP (tetapi tetap disuka hingga anak SMA) itu bukan tentang rebutan pacar atau harta warisan, meskipun kadang ada bumbu asmara juga. Ada episode tentang Cici yang sedang beranjak dewasa.

Tokoh baik juga tidak lantas tertabrak mobil dan/atau masuk rumah sakit.\3\4

Yang juga bikin adem adalah para guru digambarkan sebagai orang baik, terhormat, bukan orang aneh yang bahkan ikut menjadi bagian dari masalah. Acara tersebut dibuat antara lain oleh Pustekkom (Pusat Teknologi Komunikasi dan Informasi Pendidikan) Depdikbud. Jadi, jelas muatan pendidikannya menonjol.\5

sampul buku aci

Drama ini serial, sekali tayang cerita selesai, jadi tidak mengular kemana-mana. Masing-masing cerita juga diterbitkan dalam bentuk buku kecil yang tidak terlalu tebal. Theme song drama seri ini dihapal oleh setiap anak dan diedarkan juga dalam bentuk kaset.

*

Saya bayangkan betapa serunya jika drama seri tersebut dibuat ulang. Dengan demikian remaja kita akan memperoleh tontonan alternatif selain sinetron ajaib yang sekarang beredar, reality show yang tak kurang anehnya, atau gosip yang tidak penting. Hanya berkhayal, karena mungkin tidak ada stasiun televisi (swasta) yang mau membiayai.

Jika pun ada yang mau bikin, masih berharap nih, semoga tidak di-‘sinetron’-kan yang lebay itu.

Hanya ada satu cinta
dengan bumbu rindu selalu
Cinta kita cinta bersama
Da.. da.. da.. da.. da..

[z]

ke atas

Catatan Kaki
  1. Tengok misalnya http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/12/12/27/mforhf-rs-harapan-kita-dan-pihak-sinetron-kelewatan, diakses 27-12-2012 ^
  2. Hehe, menurut komentar seorang paman saya, bintang sinetron sekarang yang penting dapat melotot sepanjang cerita. ^
  3. Hmmm, cerita ‘Love in Paris’ pun harus shooting di RS Harapan Kita Jakarta sebagaimana ramai diberitakan ini. Konon ada adegan sakit leukemia. ^
  4. Update 28/12/12: akhirnya pemerintah melarang shooting di rumah sakit. Semoga meredam keinginan pembuat sinetron untuk merumahsakitkan tokoh cerita. Memang ada kemungkinan mereka membuat studio rumah sakit… ^
  5. Baju para murid juga rapi dimasukkan. Kelihatannya para pemain ini anak sekolah betulan, apa adanya… ^