A wayang kulit performance was held in Prambanan, Klaten, Central Java, in the beginning of October 2008. The story of the wayang was entitled “Kangsa’s cockfighting”. In the past, the spectators viewed wayang from behind the screen.

Awal Oktober 2008, saya nonton wayang kulit di Prambanan, Klaten. Acara tersebut digelar untuk memeriahkan tumbuk ageng,\1 ulang tahun ke-64, salah satu kolega yang juga mantan dosen saya. Lakonnya, jika tidak salah ingat, adalah “Kangsa Adu Jago”. Wayang ini digelar dengan gaya Surakarta.

*

Wayang dapat dinikmati dari dua arah, dari depan dan dari belakang (balik) layar. Pada rumah Jawa yang lengkap terdapat bagian yang disebut peringgitan. Bagian ini terletak di antara dalem dan pendapa. Disebut peringgitan karena bagian ini merupakan tempat digelarnya ringgit atau wayang.

Para sesepuh dan tamu terhormat lain menikmati wayang dari dalam rumah, dalem, yang hangat, sembari menikmati suguhan nyamikan dari tuan rumah. Mereka hanya melihat bayangan siluet wayang yang berkelebatan berwarna hitam di kelir berwarna putih. Makna dan cerita menjadi penting bagi mereka.

Sementara itu, para penonton umum berada di pendapa, dapat melihat kemilau wayang yang umumnya dicat perada berwarna keemasan itu. Sekarang, mereka dapat juga menikmati para sinden yang bahkan akhir-akhir ini sengaja dipajang menghadap ke penonton, bukan ke wayang memperhatikan cerita seperti dahulu.

*

Saya hanya nonton sekitar seperempatnya. Berikut foto-foto yang saya dapat dari belakang layar.

Sugeng mirsani. [z]

ke atas

Catatan Kaki
  1. Tumbuk ageng adalah ulang tahun ke-64. Bagi masyarakat Jawa hal ini cukup istimewa, karena pada hitungan 8×8 ini weton seseorang akan berulang sama persis. ^