A big company in the Netherlands produced a new serie of tea bag, one of them is ‘Flowery Java’. Illustration at the box depicts a wayang scene: Bima, the master, is pouring tea into the Garèng’s cup, a servant. It only happens when they are away from Indonesia …

Paruh terakhir tahun 2012 ini, salah satu produsen teh di Belanda mengeluarkan serial baru untuk produk teh celup, yaitu ‘Finest Classics’. Seri ini terdiri atas empat ragam rasa, atau aroma, yang salah satunya adalah Flowery Java. Teh ini berasa teh hitam dengan aroma melati seperti yang kebanyakan dikonsumsi di Jawa.

Bungkus teh celup ‘Flowery Java’ tersebut didesain dengan gambar wayang siluet. Digambarkan Bima atau Wêrkudara menuang air teh dari teko untuk… Garèng! Mungkin Bima, sang satria Jodipati ini menjadi demokratis ketika berkunjung di Negeri Belanda dan mau menuang teh untuk Nala Garèng, si pembantu.

kotak teh celup gambar wayang

Wayang Ngêtèh

Ngapain juga Bima bersama Garèng ke Belanda? Kemana Arjuna yang ndara-nya si punakawan? Garèng pergi diam-diam? Atau ia diutus keluarga Pandawa untuk menemui Bima yang pergi ke Belanda tidak pulang-pulang seperti Bang Toyib? Hehhe…

Tetapi, adalah satu hal yang bagus aroma Jawa digunakan dalam teh di Belanda. Finest classics lagi … Teh-teh lain dalam seri tersebut umumnya adalah teh Belanda (dan Batavia). Rupanya, hubungan Jawa, Batavia, dan Belanda di masa lampau masih menjadi komoditas yang dapat dijual kepada publik di Negeri Kincir Angin ini.[z]

ke atas