john galliano

Pagi tadi, ketika menumpang\1 kereta Intercity dalam usaha mengikuti shalat Idul Adha di Den Haag, kudapati koran gratisan Metro, yang menyatakan diri sebagai “Grootste gratis krant van Nederland”. Koran berukuran tabloid terbitan hari ini cukup tebal karena ada sisipan “Metro Mode” beberapa halaman.

Seperti biasa, saya cuma melihat-lihat sepintas. Bahasa Belanda saya yang berkategori ‘jauh di bawah parah’ menjadi kendala untuk mengerti isi koran dengan baik. Tetapi tiba-tiba saya menemukan satu kutipan yang terbaca di satu halaman. “People don’t dress up anymore. That should be changed.” Tertulis di situ, nama John Galliano.


People don’t dress up anymore. That should be changed.

John Galliano

Entah apa yang dimaksud dengan ‘dress up’: berpakaian, atau berpakaian dengan benar?

Yang mana pun: iyakah, separah itu kah? Lah, sekarang mode berkembang, para desainer sangat banyak, harga karya mereka mahal-mahal sampai tidak terbayangkan. Apa yang mereka kerjakan? Jika perkembangan mode menjadi minimalis dan bahkan jika kemudian nirbusana, para perancang itu kan malah kehilangan lapangan kerja .. 🙂

*

Pikiran saya terus teringat kejadian minggu lalu, atau minggu sebelumnya, yang dipajang besar-besaran oleh media di Jakarta. Konon, seorang pengendara perempuan nyaris nirbusana menabrak tujuh orang. Pada berita-berita tersebut selalu ditekankan tentang keadaan nirbusana. Beritanya bukan lagi ‘pengendara mabuk menabrak tujuh orang’, atau ‘Orang stress nabrak tujuh orang’. Mungkin perihal mabuk belum jelas pada saat kejadian itu, tetapi setelah beberapa waktu para pemburu berita pastilah tahu apa yang terjadi.

*

Juga teringat oleh saya, beberapa perlawanan mode nirbusana ini di tanah air. Akhir tahun 80-an dahulu ada gerakan penggunaan jilbab,\2 yang pada awalnya amat susah. Ketika jilbab diterima luas, sekarang ada tren hijab, atau menyebut diri hijaber. Mungkin mereka ini sangat setuju dengan pendapat John Galliano tersebut. [z]

ke atas

Catatan Kaki
  1. Apakah ada pengendara pada kereta api? ^
  2. Jadi ingat teater Sanggar Shalahuddin dulu yang sukses dengan Lautan Jilbab karya Cak Nun. Kemana, ya mereka … ^