Catatan (daripada) Sekti

"dari kumpulannya terbuang" | Chairil Anwar | 1943

Pencopet (di) Belanda


Predikat sebagai salah satu tujuan wisata dunia, tidak membuat Amsterdam aman bagi wisatawan.\1 Konon kota ini termasuk salah satu kota rawan copet bagi wisatawan di Eropa. Baca misalnya bundavanrafizya.blogspot.nl/2012/08/jalan-jalan-di-eropa-awas-copet.html. Blog tersebut juga memberikan tips untuk mengurangi resiko kecopetan dalam berwisata.

*

Dini hari ini, baru kembali dari mengantar teman mencari kantor polisi, membuat laporan atas kehilangan tas seisinya. Tas teman yang baru beberapa hari datang dari Indonesia ini hilang di tempat yang tidak terkira, di kafe yang tidak terlalu ramai, dan bukan kafe untuk wisatawan seperti yang banyak terdapat di sekitar Centrum. Tas diletakkan di lantai, di samping kursi. Kami berlima asyik ngobrol dan tanpa disadari tas ransel melayang.\2

Bersama pegawai kafe, kami mencoba mengingat, apa yang terjadi ketika kami duduk. Pegawai kafe mengingat bahwa ada seseorang yang duduk di dekat kami, sibuk menelefon tetapi ia tidak pesan makanan atau minuman apapun. Jadi, dia yang tersangka. Kami juga mencoba mencari di sekitar kafe, karena mungkin si pencopet akan membuang tas setelah mengambil barang berharga. Tidak ketemu juga.

Kami harus ke polisi karena memerlukan surat untuk mengurus surat yang lain.

Mencari polisi di kawasan Centrum yang ramai dengan wisatawan ini ternyata tidak mudah. Beruntung pegawai kafe mau menunjukkan alamatnya, meskipun tidak kami pahami dengan detil. Setelah berjalan jauh, bertanya ke seseorang yang sangat membantu karena mau membuka telepon pintarnya untuk melihat peta, kantor tersebut ternyata tidak membuka pintunya meskipun kami pencet bel berkali-kali. Kantor sudah gelap meskipun belum jam sepuluh malam. Tertulis di pintu, jika lebih dari jam 10, harap mencari dua alamat yang lain. Yah, ini masih 10-15 menit.

police amsterdamDua alamat yang disebutkan tidak juga mudah ditemukan. Yang satu tidak ada di peta yang kami bawa. Yang lain tidak segera ketemu. Papan nama kantor polisi tidak mencolok, orang-orang juga tidak dapat menunjukkan dengan tepat di sebelah mana kantor tersebut. Peta tidak membantu, karena menunjukkan arah yang berbeda. Setelah kurang lebih satu setengah jam berputar-putar–jalan kaki tentunya–barulah kantor tersebut ditemukan.

Tentu, polisi tidak dapat mengembalikan apa yang hilang. Meneer polisi juga bilang, jika uang dan hp pasti hilang, tetapi barangkali surat dan tas masih dapat ditemukan. Selama setengah jam, meneer polisi menanyai dan membuat catatan. Hanya, dia juga memerlukan nomor paspor, yang tentunya teman saya tidak mengingatnya. Dia harus kembali ke kantor polisi keesokan harinya, setelah menemukan nomor paspor di dokumen yang tersisa.

*

Bukan kali ini saja saya memiliki teman yang kehilangan tas di Amsterdam. Selama setahun ini, seorang teman kehilangan tas saat baru datang di Bandara Schiphol. Seorang teman yang lain kehilangan tas berisi laptop, paspor dsb dari boncengan sepeda. Yang terakhir ini rasanya memang sembrono, meletakkan barang di boncengan sepeda, tempat yang tidak dapat kita awasi.

Maka, saya dapat mengerti jika seorang oom yang aseli Belanda pada hari-hari pertama kedatangan saya di Amsterdam dulu sedikit-sedikit mengingatkan saya untuk berhati-hati dalam membawa tas. Atau selalu berkata dengan sedikit keras: “Kenapa membawa tas…” Selalu memeriksa, apakah tas terbuka, letakkan di depan, apakah membawa kamera, laptop, dimana meletakkan uang, paspor …

Pelajaran dari peristiwa ini adalah:

  • hati-hati dengan barang bawaan. Awasi terus. Apalagi jika terlepas dari badan, wong dompet yang di saku saja dapat melayang. Konon tas punggung (ransel/backpack) lebih rentan terhadap pencopetan.
  • batasi barang yang dibawa, cukup seperlunya. Uang cash tidak terlalu diperlukan karena toko-toko menerima uang kartu, kecuali akan belanja di pasar. Jika tidak memiliki kartu ATM, dapat membeli kartu (pin) di toko-toko. Untuk transportasi, dapat membeli kartu di mesin-mesin di pinggir jalan.
  • gandakan dokumen, simpan terpisah. Fotokopi, juga pindai (scan) dan simpan secara daring (online), cari yang aman tentunya.
  • saling mengingatkan, terutama jika kita menjadi orang yang telah lebih lama tinggal. Teman yang baru datang mungkin tidak tahu situasi, oleh karena itu perlu diingatkan sambil tetap waspada dengan bawaan sendiri tentunya.
  • mengenali dan mengingat tempat pertolongan atau apa istilahnya, tempat-tempat yang dibutuhkan untuk kondisi darurat atau perlu, ada baiknya buat yang tinggal lama di suatu tempat. Kantor polisi, rumah sakit, pemadam kebakaran …

Jadi, harap berhati-hati di Amsterdam, ya. Saya juga … [z]

ke atas

Catatan Kaki
  1. Jadi ingat Sapta Pesona yang pernah digalakkan sebagai upaya untuk memajukan pariwisata Indonesia. “Aman” menjadi pesona nomor satu. 1. Aman, 2. Tertib, 3. Bersih, 4. Sejuk, 5. Indah, 6. Ramah Tamah, 7. Kenangan. ^
  2. Konon, ransel lebih diincar pencopet di Amsterdam ini karena merupakan properti turis. Waktu itu, satu tas yang bukan ransel miliki seorang teman terletak dalam posisi yang lebih rawan. Tas tersebut tidak hilang. ^

2 Comments

  1. Mimi Savitri

    06/10/2012 at 15:31

    Lah kok kayak di Jakarta aja ya…banyak copetnya.

    • Konon London juga masuk satu dari lima kota berbahaya bagi wisatawan di Eropa, lho Mbak … Tempat-tempat wisata mungkin memang banyak pencopetnya..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *