Menjelang kembali ke tanah air beberapa hari yang lalu, terbayang berbagai jenis makanan yang akan dapat saya nikmati: sate, tongseng, rendang, nasi goreng, kupat tahu, gado-gado, lotek, pempek, gudeg, pecel lele, tempe goreng, …
Sebagian makanan tersebut memang dapat dinikmati dengan mudah di Amsterdam. Akan tetapi, tetap saja rasanya berbeda. Makanan dari negeri sendiri, yang aseli, membuat tak sabar untuk segera menginjakkan kaki ke bumi pertiwi.

Perjalanan Amsterdam-Yogyakarta tidak mulus-mulus amat. Pesawat milik maskapai Garuda Indonesia yang saya tumpangi untuk beberapa waktu berputar-putar saja di atas Dubai, kira-kira begitu. Pilot memberitahu bahwa pesawat sedang menunggu giliran mendarat di bandara untuk transit karena konon hanya satu landasan pacu yang dioperasikan di lapangan terbang tersebut. Akibatnya, pesawat terlambat sekitar satu jam dari jadwal saat tiba di Jakarta. Istilah populernya: delay.

Lebih parah lagi, penerbangan Jakarta-Yogyakarta. Pesawat milik salah satu maskapai swasta yang saya tumpangi dijadwalkan berangkat pukul 14 lebih. Akan tetapi karena saya melakukan check in pukul 11, oleh pihak penerbangan ditawari untuk maju, ikut penerbangan sebelumnya yang kira-kira berangkat pukul 12 lebih. Baiklah, sepanjang hal itu dapat mempercepat saya menginjakkan kaki di Bumi Mataram, tempat berbagai makanan nikmat dapat diperoleh di sembarang tempat. Tetapi, ternyata delay lagi. Pesawat bahkan baru berangkat setelah jarum jam melewati angka 2 ….

*

Belum genap sepekan di Yogyakarta dan belum sempat memuaskan nafsu akan makanan uenak, terdengar kabar bahwa para produsen tempe melakukan aksi mogok. Mereka tidak membuat tempe karena harga bahan baku bahan makanan ini — ternyata sebagian besar adalah kedelai impor dari Amerika Serikat — melonjak mahal tidak ketulungan …. Hampir gagal keinginan saya untuk menikmati tempe garit yang asin-asin gurih itu.

*

Kata pepatah Jawa yang dipelesetkan gaya Yogya: esuk delay sore tempe[z]

Baca juga: