Masih sulit untuk mendapatkan suguhan tontonan sepakbola yang indah dan menghibur di lapangan hijau. Bagaimana para pemain menampilkan teknik-teknik terbaik untuk menggiring bola menuju gawang lawan, atau bagaimana pemain menghalau bola yang menyerang dan menyusun suatu serangan balik.

Yang terlihat masih pertikaian, perseteruan.

Dan mungkin karena sifat alami suatu game, yaitu bersaing, berhadapan, dan bersaingan, cukup menarik dan ‘memuaskan dahaga’, maka kelihatannya semua ingin berpartisipasi dalam permainan itu. Tidak hanya dua tim yang berhadapan di lapangan, tetapi juga para suporter yang bersaingan, bertengkar, hingga bentrok seperti yang terjadi kemarin (3-2-2012) di Stadion Mandala Krida, Yogyakarta (antara suporter suatu kesebelasan dari Wamena dan dari Jakarta, sementara itu di Tangerang juga terjadi bentrok ‘derby‘ antara suporter Persikota dan Persita. Pada minggu ini juga terjadi perkelahian antarsuporter klub sepakbola di Mesir, yang bahkan menelan korban jiwa lebih dari tujuh puluh orang.

… yang bahkan menelan korban jiwa lebih dari tujuh puluh orang.

Tidak cukup orang-orang di lapangan (tim sepakbola, tim suporter) yang berkelahi, orang-orang di level manajemen pun bertengkar. Kita lihat di media massa, pengurus PSSI dan para pengelola klub-klub sepakbola pun bertikai satu sama lain, meskipun kelihatannya belum sempat bentrok fisik.

Pertikaian, perseteruan, bahkan peperangan merupakan bagian dari sejarah dan mungkin budaya. Berkait dengan perang antarsukubangsa misalnya, sebagian ahli etnografi menduga berkaitan juga dengan pembagian kemakmuran, atau menjaga keseimbangan ekologis. Di beberapa wilayah, para sukubangsa yang bertikai kemudian mengakhiri dengan perjanjian damai dan pesta besar. (Wah, jadi ingat desa Ghalia, dengan tokoh Asterix dan Obelix. Di akhir halaman komik tersebut pasti terdapat scene pesta, meskpun jarang melibatkan musuh. Eh, di film Caesar pernah datang sekali)

Apakah pertikaian dalam olah raga, termasuk sepak bola juga bagian dari budaya (dan naluri) itu?