Pada seputar pergantian tahun, kalender merupakan benda yang menjadi populer. Memiliki kalender baru di awal tahun seakan menjadi hal wajib. Mendapatkan secara gratis, karena membeli suatu produk, pemberian kantor, pembelian dari kantor, diberi teman …

Kalau mau hemat, kita bisa menggunakan kalender lama. Tinggal cari yang cocok. Ambil satu halaman kalender, periksa tanggal satu jatuh hari apa, cocokkan dengan tahun ini, sesuai untuk bulan apa kalender itu. Namanya ‘kalender daur ulang’. Hal ini pernah saya praktikkan di kantor tetapi ada teman yang tidak tega dan kemudian memberi saya sebuah (buah? apa istilah satuannya) kalender.

*

Tahun ini urusan kalender di Indonesia agak berbeda. DPR membuat kalender yang konon kabarnya mahal, lebih dari seratus ribu rupiah per kalender dinding. Karena dicetak ribuan, maka jumlah akumulatifnya hingga milyaran rupiah. Berita terakhir menyebut bahwa untuk belasan ribu kalender tersebut hanya menghabiskan tiga ratus jutaan setelah melalui tender.

Masing-masing anggota dewan kabarnya mendapat lima belas eksemplar. Tentu tujuannya bukan untuk dipasang semua di dinding kantor anggota dewan di Senayan sana, tetapi lebih berfungsi kehumasan. Hanya saja, mungkin karena kasus kalender tersebut mencuat atau karena sekarang memang tidak butuh kalender dinding, para anggota diberitakan jarang yang memasang.

*

Saya teringat warung-warung soto yang banyak terdapat di Yogyakarta dan Solo. Di dindingnya selalu terpasang banyak kalender hingga tidak ada tempat tersisa. Jumlah kalender tersebut dapat mencapai puluhan dan semua masih aktif.

Mungkin apa tidak, ya, ketika mengunjungi warung soto saya akan nemu kalender DPR yang menghebohkan itu. Ini to… 🙂 [z]

ke atas