Menikmati kereta Sprinter di Amsterdam yang tepat waktu, longgar, bersih, adem (jelas!), dan tak berisik, membuat saya berpikir apakah penumpang punya emosi tertentu jika naik kereta api ini. Mereka leyeh-leyeh saja, mendengarkan musik dari alat saku, atau berdiri di dekat pintu karena tujuan berikut akan dicapai dua-tiga menit saja. Saya teringat bahwa di Indonesia banyak ‘penggila’ kereta api yang menikmati bepergian menggunakan kereta api atau sekedar mengagumi model kereta api skalatis yang (bagi saya) mahalnya minta ampun itu.

Gila Kereta

Jika ditanya, apakah suka naik kereta api, jawabannya dapat dari beragam spektrum dan tidak sesederhana ya atau tidak. Apa yang dimaksud dengan suka? Kata ini bisa berarti ‘sering’ naik kereta api, dapat berarti ‘senang’, dan bisa juga bermakna ‘cinta’. Suka dalam arti sering, kira-kira seperti ‘dia suka ngambek’. Jadi, jawabannya bisa ya, saya sering naik kereta api, atau tidak, sukanya naik bis. Suka dalam arti senang, berarti menikmati (atau tidak menikmati) melakukan perjalanan menggunakan kereta api. Sementara itu suka yang kira-kira mirip dengan cinta, biasanya karena (atau menjadi) ketagihan naik kereta api.

Banyak penggila kereta api, dalam arti mereka yang cinta setengah mati, memiliki semacam ikatan emosi dengan kereta api. Saya pikir, dalam hal ini mereka suka kereta api bukan karena mampu membuat mereka berpindah tempat (dari satu stasiun ke stasiun lain, dari satu kota ke kota lain) dengan aman, cepat, dan nyaman (akronimnya semoga bukan ‘ancaman’ ). Bukan karena tinggal duduk, merem, setelah itu sampai di tujuan tanpa kurang satu apapun. Naik kereta api semacam itu mungkin tidak mengesan (yah, banyak juga yang terkesan dengan tepat waktunya, rapinya, dlsb, bahkan mungkin yang terakhir ini lebih banyak.)

Ada aspek lain yang membuat kereta api disukai, dicintai, digilai. Ada semacam romantika di kereta api. Memang masih banyak ketidaknyamanan di kereta api, seperti jadwal yang sering tidak tepat, gangguan kejahatan, kebersihan yang kurang, para pedagang yang hilir mudik, suara yang masih berisik… tetapi kok ya banyak yang menikmati perjalanan dengan kereta api. Mungkin terpaksa: kereta api merupakan sarana transportasi yang paling masuk akal jika menimbang ongkos (uang, capek, waktu) dan hasil yang didapat (sampai tujuan), jadi ya dinikmati saja. Akan tetapi rasanya banyak yang benar-benar menikmatinya: duduk di atas gerbong (mungkin ada yang dengan suka hati melakukan kegiatan terlarang ini), berpindah-pindah kereta di stasiun, membeli makanan restorasi, membuat kelompok (kabarnya ada kelompok arisan sesama komuter di KRL Jakarta; saya pernah nyepur berbarengan dengan kelompok mudik bareng yang membeli tiket bisnis berkelompok dan kemudian bertukar posisi: jika di kepulangan tidur di atas kursi maka di kepergian nanti akan tidur di lantai bertukar tempat dengan pasangannya tadi. Jadi semua dapat bagian tidur dengan posisi tidur dengan adil.)

Kereta api barangkali disuka juga karena ada yang dapat diceritakan: macet di mana, telat berapa jam, ada peristiwa apa di atasnya. Ada satu keluarga Belanda yang jika naik kereta di Jawa memilih yang ekonomi atau bisnis, karena suka menikmati lalu-lalang para pedagang …  Mengesankan.

Nilai sosial dan simbolik

Saya tidak ingin mengatakan bahwa tidak perlu ada perbaikan, tetapi itulah yang terjadi. Mudah-mudahan hal semacam ini, bahwa kereta api ‘hidup’ di lahir dan batin masyarakat, memiliki ‘makna yang mendalam’, tidak terlewatkan dalam dokumentasi teman-teman Indonesian Railway Heritage yang tengah getol menggeluti sejarah dan warisan kereta api.

Jadi, rasanya kereta api bukan sekedar ‘alat transportasi’ melainkan lebih bersifat ‘kendaraan’ atau mungkin ada istilah lain yang lebih tepat. (Saya ingin membandingkan dengan istilah turangga, kuda, dalam budaya Jawa yang memiliki makna sosial dan simbolik). [z]

ke atas