Nulis

Bagaimana menulis blog yang baik, dari sisi tata bahasa dan pemilihan kata, sehingga enak dinikmati pembaca, mengalir dengan lancar dari depan hingga belakang.

Entahlah, saya tidak tahu. Menulis cukup sulit bagi saya. Gagasan sering tidak mengalir, selalu tunjang-menunjang antara berbagai hal di dalam alinea dan bahkan kalimat. Oleh karena itu, selalu ada revisi yang hingga puluhan kali untuk setiap artikel yang saya unggah di blog.

Senangnya adalah saya tidak sendiri. Konon, keranjang para penulis terkenal pun sering penuh dengan kertas ketikan yang ‘tidak jadi’. Tidak hanya dalam hal menulis, juga dalam berkarya seni rupa. Dulu, belasan tahun yang lalu maestro seni rupa batik Amri Yahya berkata bahwa untuk membuat sebuah lukisan kaligrafi kadang perlu diulang berkali-kali sebelum mencapai hasil yang diinginkan. Waktu itu dia berbicara pada acara Pesantren Seni yang dibuat oleh kami para mahasiswa untuk mengisi kegiatan Ramadhan. Makalah yang dia bawa menggunakan kover bergambar kaligrafi yang dibicarakan itu.

Jadi, rasanya untuk menulis blog yang baik yang pertama harus dilakukan ya menulis. Tidak ada cara lain. Setelah itu, baca dan perbaiki jika ada yang belum sesuai. [z]

ke atas

226 total views, no views today

Mudik


Salah satu kata yang populer di seputar hari raya adalah “mudik”. Pengertian umumnya adalah pulang ke tempat asal. Pada hari-hari semacam ini, negeri riuh rendah dengan orang yang pulang kampung. Perhatian seluruh negeri tertuju ke peristiwa ini, yang konon di tahun 2016 diperkirakan terdapat 17,6 juta orang yang mudik lebaran. Jumlah ini sama dengan perkiraan jumlah penduduk Mali tahun 2015, atau lebih banyak dari penduduk Belanda tahun 2016 ini yang berjumlah 16.963.200 orang.

Media massa memberikan porsi yang banyak dalam pemberitaan tentang mudik, atau disebut dengan “arus mudik”. Para naralapor, reporter, dipasang di berbagai ruas jalur penting yang biasanya ramai atau macet. Mereka melapor pada segmen berita khusus tentang peristiwa ini. Umumnya yang terjadi adalah orang-orang pergi dari Jakarta ke tempat-tempat lain di seluruh Nusantara, terutama “Jawa” dan Pulau Sumatera.

Nah, setelah satu-dua hari setelah hari raya, para pemudik mulai kembali ke tempat semula. Orang-orang yang minggu-minggu kemarin meramaikan jalanan dengan arus mudik, sekarang balik ke Jakarta untuk melanjutkan hidup. Media massa memberitakan hal sama dengan beragam istilah: “arus balik”, atau “arus balik mudik” di samping tetap menggunakan kata “mudik”. Terlihat kita agak bingung memberikan istilah yang merupakan lawan kata dari mudik.

Jadi, antonim dari “mudik” adalah “balik”, dalam kasus ini.

Dahulu waktu sekolah saya diajari kata majemuk “hilir-mudik”. Kata ini berarti ada objek yang ke sana ke mari, entah itu orang atau barang seperti kendaraan. Menariknya adalah “mudik” disandingkan dengan kata “hilir”. Hilir tentu bermakna pergi ke tempat air mengalir. Ingat lawan kata “hulu-hilir”. Mudik konon berarti “meng-udik”, “pergi ke udik”, ke suatu tempat nun jauh di sana, tempat air sungai bermula. Istilah “hilir-mudik” mungkin dahulu muncul zaman transportasi sungai masih populer, menjadi andalan. Orang pergi dengan perahu ke hulu dan ke hilir mengikuti panjang sungai, jadi hilir-mudik.

Istilah mudik tentu relevan untuk menyebut orang Jakarta yang pergi pulang kampung ke, misalnya “Jawa”. Namun, banyak mahasiswa saya yang berasal dari Jakarta, dan juga melaksanakan tradisi “mudik” ini. Entah, apa mereka sebaiknya menyebut “ngilir” atau “milir”. [z]

ke atas

139 total views, no views today

w.a.

Dasa warsa kedua di abad ini kita memiliki cara baru untuk bersosialisasi: whatsapp. Agak susah menjalani hubungan dengan orang lain tanpa dijembatani dengan aplikasi satu ini. Tentu tidak semua orang merasa kesulitan tanpa whatsapp. Beberapa orang teman saya tetap menjalani hidup, tanpa smartphone yang dapat berwhatsapp-an, bahkan tanpa telepon genggam sama sekali.

Saya pun belum lama terlibat dalam hubungan yang terhubungkan oleh waslap, eh, whatsapp ini. Maka, seringlah kagok-kagok dan bertanya-tanya, apa yang harus diperbuat.

Misalnya saja. Ada kontak kita di grup mengunggah teks berisi berita duka. Apa yang mesti saya perbuat? Apakah secara spontan mengucap “inna lillaahi wa inna illaihi rajiuun” sebagaimana agama yang saya anut mengajarkan jika saya mendengar berita duka? Atau haruskah memposting kalimat itu dalam bentuk teks ke grup w.a.? Atau menulis “ikut berduka, … dst” meski keluarga yang kehilangan tidak ikut dalam grup whatsapp? Juga, jika saya ikut beberapa grup, dan di setiap grup ternyata terdapat berita duka yang sama, apakah saya perlu menyatakan ikut berduka pada setiap grup?

Tidak hanya berita duka, kadang juga terdapat kabar tentang ulang tahun seseorang (kasus ini mestinya si berulang tahun ikut dalam grup tersebut), atau sekedar ucapan selamat hari raya. Apakah saya juga perlu (seeloknya) merespon ucapan di grup tersebut, juga ucapan yang sama pada setiap grup?

Tentu tidak berbuat apapun juga bisa. Kita biarkan saja postingan-postingan teman tanpa menengoknya, atau sekedar menjadi seorang silent reader. Kita hanya membaca tanpa berkomentar apapun. Namun, bukankah media sosial adalah tempat berhubungan dengan orang lain? Tanpa merespon hal-hal yang diperbuat, atau dalam kasus ini adalah kata-kata dimuat orang lain, tentu tidak elok. Perasaan saya, hal itu sama seperti jika terdapat seseorang yang ngobrol dengan kita, namun kita diam saja. Atau kita duduk dengan sekelompok teman, namun kita diam saja tidak merespon apa yang seseorang atau kelompok bicarakan.

Tetapi itulah perkembangan dunia sosial terkini. Kadang membuat tergagap terutama bagi yang sedang bertransisi, dari dunia nyata ke dunia maya.[z]

ke atas

153 total views, no views today

Cabai

Meski konon katanya berasal-usul dari luar negeri, benda kecil satu ini merupakan hal yang sulit dipisahkan dari kehidupan masyarakat Nusantara. Berbagai penganan dibuat pedas dengan cabai alias lombok. Tidak hanya masakan Padang yang selalu pedas, orang Yogya pun sudah ketularan doyan makanan pedas. Sambel goreng, misalnya, yang selalu disertakan dalam sepaket gudeg itu, pastilah pedas. Makan tahu goreng hingga tempe kemul pun kurang afdol tanpa pendamping cabai. Jangan lupa kuliner pinggir jalan yang beberapa tahun terakhir berseliweran di televisi, yaitu oseng-oseng mercon. Ditanggung mulut terbakar saat mengkonsumsinya.

Pada skala nasional, kadang cabai dapat mengganggu konsentrasi pemerintah, dan juga rakyat. Musim hujan berkepanjangan, atau Ramadhan dan Lebaran datang menjelang, komoditas satu ini akan menyita perhatian kita karena harganya pasti melambung. Sebenarnya entah apa hubungan cabai dan puasa Ramadhan. Kolak pisang tidak memerlukan cabai sama sekali.

‘Ketergantungan’ kita akan cabai mungkin karena mengkonsumsi bahan makanan ini merupakan semacam olah raga, sport, yang berkaitan dengan peningkatan adrenalin. Aktivitas yang agak-agak menyerempet ketidaknyamanan selalu malah dicari, seperti mengkonsumsi cabai yang dapat membakar mulut dan lambung itu.

Tetapi tidak masalah dengan rasa tidak nyaman itu. Terdapat ungkapan bahasa Jawa, kapok lombok . Kapok setelah terbentur masalah, tetapi lain kali tetap akan melakukannya lagi. Dalam hal makan lombok adalah masalah kepedasan, hingga mungkin perut mulas dan harus bermasalah di kakus.

Serunya lombok atawa cabai tdak berhenti di situ. Persis seperti batu akik yang beragam jenis, ternyata cabai juga beraneka ragam. Secara umum mungkin kita, eh masyarakat di sekitar saya, hanya mengenal dua jenis, yaitu lombok rawit dan lombok jawa. Yang pertama berbentuk kecil,  berasa pedas, dan biasa digunakan untuk sambal, sementara satunya berbentuk besar dan kurang pedas. Yang terakhir ini malah sering disayur, bukan menjadi tambahan yang minoritas.

Namun, terdapat berjenis-jenis lombok di luar yang dua itu. Memang, jika kita pergi keluar dari Jawa, akan ketemu beragam cabai. Umumnya berwarna hijau, kecil, keras, dan …. pedas! Rumus umum dari tingkat kepedasan adalah dengan melihat bentuknya. Semakin besar semakin kurang kepedasannya.

Ahli cabai kemudian membuat skala kepedasan.Pak Scoville merumuskan indeks SHU pada awal abad yang lalu. Rumus itu untuk mengukur dengan pasti seberapa pedas suatu cabai. Namun, skala itu kelihatannya hanya beredar di kalangan tertentu dan tidak tersebar luas meski sudah terbilang berusia seabad. Maka, Yu Yem yang menjual lotek tetap bertanya dengan skala biji: “lomboke pinten?” cabai berapa. Alhasil, kadang lotek terasa lebih pedas dari yang diharapkan, atau malah tidak terasa pedas sama sekali.

Beberapa produk makanan kemasan mencantumkan kemasan skala kepedasan menurut mereka. Sebuah produk keripik mencantumkan ‘level’ untuk kepedasannya, misal ‘level 3’. Meski demikian, tidak jelas seperti apa level 3 itu. Yang jelas, keripik level ini relatif lebih pedas dibanding level 2.

Tingkat kepedasan cabai memang tidak sama. Konon, ketika harga cabai cukup tinggi, maka rasa cabai akan tidak pedas. Hal ini terjadi karena para petani buru-buru memetik cabai yang masih muda untuk segera dijual. Begitu pula sebaliknya, jika harga lagi turun, maka rasa cabai akan pedas karena dipetik setelah cukup umur. Petani menunggu harga membaik sebelum memetik.

Jadi, loteknya mau seberapa shu?

Sancaka, 09:37 selepas ketemu penggila cabai, Pak Halim.[z]

ke atas

196 total views, no views today

Durian atawa Duren

Heran juga memgetahui kegilaan teman-teman saya, sebagian saja tentunya, pada buah yang disebut durian ini. Setidaknya setiap minggu ada saja di antara mereka yang bercerita tentang aktivitas berburu buah berkulit tebal ini.

Rasanya bukan hanya teman-teman saya yang berhobi demikian. Terdapat cukup banyak penggemar buah bau ini, baik sebagai buah asli, menjadi makanan lain seperti lempok dan tempoyak, atau menjadi perasa saja macam di es duren.

Mungkin terdapat beberapa penyebab kegilaan itu. Pertama, buah ini cukup bervariasi sehingga banyak pengetahuan yang muncul darinya, mulai dari klasifikasi hingga ‘katuranggan‘ durian, atawa ciri-ciri fisik durian dan hubungannya dengan rasa atau asal. Maka terdapat sebagian orang yang begitu fasih dapat bercerita tentang jenis-jenis durian, asal, ciri durian masak, dsb.

Mirip dengan akik yang beberapa waktu yang lalu sempat booming dan menempatkan beberapa orang sebagai ahli akik di komunitasnya atawa di kampungnya.

Kedua, kadang membelah durian adalah seperti berjudi. Kadang mendapat buah yang sesuai selera, kadang di atas harapan, namun tak kurang sering adalah yang mengecewakan. Hal ini membuat orang pemasaran dengan duren. Rasanya buah ini jarang dihidangkan dalam bentuk terkupas, namun selalu ada ritual belah duren.

Ketiga, campur petualangan. Memburu durian bukanlah pergi ke supermarket meski di sana biasanya ada durian yang dijamin berasa lezat. Mencari durian berarati pergi ke tempat ‘asli’ durian dihasilkan, seperti ke Purworejo, ke Nanggulan, ke Klaten, dsb.

nodurianKeempat, kontroversi menjadi bumbu. Buah ini banyak penggemarnya, namun tidak kurang pula banyak yang ‘menentang’ atau tidak menyukainya. Maka, banyak hotel yang melarang para tamu membawa durian agar tidak mengganggu orang yang tidak menyukainya, atau sensitif terhadap aromanya. Demikian juga di MRT alias sepur bawah tanah di Singapura. Tertempel di dinding interior gerbong-gerbong kereta pengumuman larangan membawa buah itu. Mungkin karena baunya bukan karena tajamnya duri kulit. Meski sebagian orang menganggap aroma buah ini harum, namun sebagian lain menganggapnya sebagai pembuat mual.

Maka tidak ada parfum berbau durian. Kayaknya. [z]

untuk Cah-cah ’87.

ke atas

405 total views, no views today