Oleh-Oleh

January 3rd, 2017 § 0 comments § permalink

Salah satu ‘budaya kita’ adalah memberi oleh-oleh pada orang yang kita kunjungi serta orang-orang yang kita tinggalkan dan ketemu lagi. Yang kedua ini seperti teman atau keluarga yang kita tinggal sebentar ke tempat lain, entah rekreasi atau keperluan lain.

Ada ‘semacam kewajiban’ bagi yang pergi untuk membawa pulang oleh-oleh. Buah tangan, atawa suvenir. Entah berwujud apa. Biasanya makanan atau kerajinan khas. Maunya yang khusus dibuat di situ, tempat yang dikunjungi, tetapi dibuat di Tiongkok juga kadang tidak masalah.

Saya sebut tadi membawa oleh-oleh ini sebagai ‘budaya kita’.

Hari minggu kemarin, pas tahun baru, toko dan kantor di Yogyakarta umumnya tutup. Setelah sedikit memutar kota, yang masih buka antara lain adalah minimarket, warung atau restoran, pom bensin, dan… toko oleh-oleh. Sampai macet-cet jalan di depan toko-toko semacam itu. Penuh dengan, kayaknya, orang luar kota yang kebetulan berlibur di Yogyakarta dan kelihatannya akan segera pulang. Maklum, dua hari lagi sudah masuk kerja atau sekolah.

Nah, yang membuat saya sampai kepada kesimpulan bahwa membawa oleh-oleh ini adalah ‘budaya kita’ adalah karena di seberang sebuah toko oleh-oleh yang jejel riyel dengan pengunjung, parkir penuh kendaraan, pun jalan di depannya menjadi macet, dua orang bule berkali-kali memotret keriuhan itu dengan kamera poket, sambil geleng kepala dan senyum-senyum. Entah apa yang mereka pikirkan. Dua orang itu rasanya bukan akan membeli oleh-oleh di toko yang sama. Barangkali malah tidak tertarik untuk membawa oleh-oleh apa pun sewaktu pulang nanti.

Mereka mungkin tidak memiliki ‘obligasi’ untuk membawa oleh-oleh pada mereka yang ditinggalkan, di negerinya sono….

***
Oh ya, hari ini seorang kolega yang baru pulang dari Negeri Gajah Putih membawakan kami, orang-orang sekantor, oleh-oleh berupa tas kecil bergambar gajah… [z]

25 total views, 4 views today

Lubang Angin

December 30th, 2016 § 0 comments § permalink

Peristiwa Tragedi Pulomas yang terjadi kemarin mestinya menyadarkan orang akan pentingnya lubang angin pada bangunan. Sebaiknya semua ruang mendapat akses udara yang cukup, setidaknya untuk keperluan darurat. Tidak ada orang berharap tersekap di dalam ruang tertutup, tetapi hal itu mungkin saja terjadi, baik karena ‘disalahi’ orang lain atau kecelakaan seperti terkunci tanpa sengaja. Jika pertolongan tidak segera datang, atau pintu tidak segera terbuka, terdapat kemungkinan orang yang terjebak di dalam ruang akan kehabisan udara.

Akan tetapi, ventilasi, atau lubang udara sudah mulai ditinggalkan. Lubang udara atap masjid gaya tradisional Nusantara, yaitu dengan sela antaratap tumpang, mulai ditutup. Salah satu alasan adalah karena digunakan binatang untuk masuk dan bersarang. Padahal, lubang di atap itu perlu untuk mengalirkan ke luar udara panas agar ruang tetap terasa sejuk apa lagi jika sedang penuh jemaah. Sekarang, alih-alih memanfaatkan sistem alami itu, kesejukan udara di masjid dicari dengan memasang kipas angin, yang mestinya memerlukan biaya listrik.

Dahulu bangsa Belanda yang mengkoloni Nusantara juga cerdik mensiasati iklim tropis yang panas ini. Di bangunan-bangunan lama masih dapat kita jumpai lubang angin yang tidak saja berada di sisi atas dinding atau atap, tetapi juga di sisi bawah dinding, mepet di lantai. Gunanya adalah untuk mengalirkan udara dingin dari luar, untuk nantinya keluar lewat bukaan-bukaan di bagian atas setelah udara tersebut memanas.

Salah satu ventilasi yang tidak umum adalah lubang pada tutup ballpoint merek tertentu, seperti bic. Konon, banyak orang tersedak karena menelan tutup alat tulis itu tanpa sengaja. Maka, lubang kecil pada ujung tutup bolpen itu berguna untuk mengalirkan udara agar si penelan tak sengaja itu masih dapat bernapas.

33 total views, 3 views today

Lukis Gelas

December 24th, 2016 § 0 comments § permalink

Siang tadi saya menemani anak dan keponakan ikut workshop (?) melukis pada gelas kaca, atau yang dalam bahasa Jawa disebut cangkir beling. Acara itu dilaksanakan dalam rangka pameran temporer Museum Sonobudoyo, yang berjudul “Bujana”. Pameran menampilkan berbagai peralatan makan, dan mainan “masak-masakan”. Ada juga kursi Ki Hajar Dewantara yang entah apa digunakan untuk makan.

Pameran itu di selenggarakan di ruang pamer baru museum tersebut, yaitu bekas gedung Koni, Jalan Pangurakan, yang berada di belakang BNI. Pameran itu dilaksanakan tanggal 14 hingga 25 Desember 2016.

Melukis di gelas kaca tidak terlalu sulit sebenarnya. Gelas dilukis dengan cat khusus untuk kaca. Itu saja. Cuman, cat tersebut harus dicampur katalis terlebih dahulu, kemudian diencerkan dengan tiner M3. Jika mengalami kesalahan dalam melukis, gampang. Usap dengan tisu dibasahi tiner. Gelas akan bersih kinclong seperti semula.

Perkara apakah lukisan jadi bagus, itu hal lain. Cat pada lukisan saya masih tidak rata dan pating plethot. Lukisan karya si mbak instruktur rapih, garis sangat halus dibuat menggunakan tusuk gigi. Bagaimana bisa sebagus itu? “Saya sudah bikin 150 buah,” katanya. Iyalah.

14825706390390_wmMasalah susah lainnya adalah ide. Apa yang harus digambar pada gelas? Mestinya bisa segala macam, dari yang abstrak hingga yang realis. Namun, kita sebaiknya mempertimbangkan media kaca yang berbentuk gelas dan cat yang kebetulan opak itu. Dari gelas-gelas peserta yang sudah jadi, ada yang bagus, ada pula yang macet gagasannya. Nah, saya berpikir cepat dan membuat gambar gelas di atas gelas kaca, eh cangkir di atas cangkir beling, yang di sediakan…

Kemudian jadilah gelas berdekorasi ini. [z]

73 total views, no views today

Telolet

December 23rd, 2016 § 0 comments § permalink

Sebenarnya saya tulalit mendapati perkembangan kemini. Anak-anak, juga yang dewasa, berdiri di pinggir jalan dan meminta sopir bis menekan klakson yang berbunyi “telolet” itu. Mereka kemudian tertawa bahagia. Konon postingan hal ini menjadi trending topik di dunia.

Tulalit saya adalah apa bagusnya mendengar suara itu di jalan. Saya lebih setuju pada semboyan “injak rem daripada bunyikan klakson”. Jika ada yang mengklakson, apa lagi di bangjo, saya biasanya merengut.

Tapi memang suara klakson itu cukup khas dan menarik perhatian. Bis (mungkin truk juga) yang biasa melaju kencang perlu menyingkirkan segenap halangan dan rintangan di jalan agar mereka tiba di tujuan tepat waktu. Atau lebih cepat agar punya sedikit waktu untuk beristirahat di terminal.

Suara itu jelas tidak dicipta untuk ditujukan kepada segerombolan anak di pinggir jalan. Jadi, mengapa anak-anak bahagia dengan pembajakan itu?

Ikut tren, boleh jadi. Karena lagi viral di dunia maya (anak-anak itu tahu apa tidak?) maka mereka juga ikut. Atau karena jenuh. Cari lucu-lucuan yang murah meriah. Teman saya, Fajri, malah menganalisis bahwa hal itu karena orang bosan dengan segala macam hoax dan kebencian di medsos. Maka, guyon sederhana yang gampang dicerna lebih disuka.

Boleh jadi, Jri… [z]

42 total views, 1 views today

Nulis

July 19th, 2016 § 0 comments § permalink

Bagaimana menulis blog yang baik, dari sisi tata bahasa dan pemilihan kata, sehingga enak dinikmati pembaca, mengalir dengan lancar dari depan hingga belakang?


Entahlah, saya tidak tahu. Menulis cukup sulit bagi saya. Gagasan sering tidak mengalir, selalu tunjang-menunjang antara berbagai hal di dalam alinea dan bahkan kalimat. Oleh karena itu, selalu ada revisi yang hingga puluhan kali untuk setiap artikel yang saya unggah di blog.

Senangnya adalah saya tidak sendiri. Konon, keranjang para penulis terkenal pun sering penuh dengan kertas ketikan yang ‘tidak jadi’. Tidak hanya dalam hal menulis, juga dalam berkarya seni rupa. Dulu, belasan tahun yang lalu maestro seni rupa batik Amri Yahya berkata bahwa untuk membuat sebuah lukisan kaligrafi kadang perlu diulang berkali-kali sebelum mencapai hasil yang diinginkan. Waktu itu dia berbicara pada acara Pesantren Seni yang dibuat oleh kami para mahasiswa untuk mengisi kegiatan Ramadhan. Makalah yang dia bawa menggunakan kover bergambar kaligrafi yang dibicarakan itu.

Jadi, rasanya untuk menulis blog yang baik yang pertama harus dilakukan ya menulis. Tidak ada cara lain. Setelah itu, baca dan perbaiki jika ada yang belum sesuai. [z]

ke atas

437 total views, no views today